English Language

2015/03/27

Tujuan Hidup

Kesibukan memang bikin kita lupa yang udah kita lakukan dan apa yang harus tetap kita kembangkan. Karena itulah blog ini ga berkembang! Terpaan semester yang sulit di ITB dan pengalaman-pengalaman baru yang ga pernah terpikirkan sebelumnya,  membuat gw lupa blog ini harus dikembangkan dan berjalan terus. Terlebih kemungkinan suatu saat blog ini jadi tenar dan gw bisa promosi brand gw sendiri disini hahaha... AMIN!!

Gw baru mulai liat-liat blog gw lagi setelah sekian lama dan gw menemukan artikel dengan pemikiran-pemikiran gw yang untungnya dengan niat gw tulis disini. Pemikiran yang bagus menurut gw, juga bisa menjadi gambaran apa yang harus gw kerjakan kedepannya.

Mengapa gw bilang untung? Karena gw hampir lupa dengan detail pemikiran tersebut dan hanya ingat bahwa gw ingin mengembangkan kesenian lokal di Indonesia. Gw hampir lupa latar belakangnya, gw hampir lupa kenapa gw ga nyaman untuk melihat indahnya negeri lain, gw hampir lupa kenapa mengembangkan kesenian bisa membantu kesejahteraan masyarakat umumnya, dll. Tetapi, dengan membacanya kembali, gw jadi teringat detail dari pemikiran tersebut, aromanya, rasanya, keindahannya Hahahaha Gw saranin lu pada bikin blog biar bisa tau rasanya menemukan kembali pemikiran yang pernah lu buat. Rasanya seperti melihat Pensieve Dumbledore di film Harry Potter!!!

Tapi saat ini gw mulai berpikir ulang tentang tujuan-tujuan tersebut. 

Benar, banyak pengalaman besar yang gw rasain setelah beberapa lama ga nulis disini. Dan karena gw melihat betapa pentingnya gw mengikat detail-detail hal yang terjadi dalam hidup gw dalam sebuah tulisan, maka gw mau menulis pengalaman besar yang terjadi beberapa bulan terakhir. Blogging emang ngasih paradigma baru kepada pembacanya, tapi kalaupun ga ada yang baca (hahahaha), PITER, TULISAN INI BUAT LU, BIAR LU TETEP INGET!!! Tapi buat pembaca yang lain, tenang aja, ini juga ada hubungannya dengan Indonesia dan keseniannya, meskipun dalam kerangka tujuan hidup gw.

Jadi, Semester 7 merupakan semester yang luar biasa buat gw. Ini adalah pertama kalinya gw jadi asisten di laboratorium, setelah bertahun-tahun terintimidasi karena Tuhan ijinkan gw masuk jurusan ini sebagai peringkat terbawah HAHAHA (Puji Tuhan untuk kesempatan itu), lebih lagi, dengan terlongkapnya teman-teman lain dengan nilai yang lebih tinggi namun ingin masuk jurusan ini juga (nah kalo ini, udah ga ngerti lagi deh ajaib banget Pekerjaan Tuhan.. ga logis banget)... Setelah berkelut sekian lama, nilai gw bisa diatas nilai minimal untuk mendapatkan Dean List tiap semester, dan ini membangkitkan percaya diri gw di semeter ini. Menjadi asisten laboratorium juga menjadi kesempatan yang baru, karena dengan begitu gw punya sesuatu yang lain untuk di tulis di CV perusahaan.

Semester ini juga menyenangkan, karena ternyata teman gw terpilih untuk  menjadi kepala departemen di organisasi keprofesian dalam kampus, dan gw diajak menjadi kepala divisi yang lumayan bergengsi, yaitu divisi field trip. Ini juga merupakan kesempatan yang bagus untuk memperbaiki CV gw yang awalnya berisinya hal-hal yang ga ada hubungannya ke jurusan, kayak lomba band atau seminar Seven Habits yang emang wajib diikutin semua anak ITB. bener-bener pertimbangan yang lemah buat masuk ke perusahaan hahaha Tapi untung ada kesempatan baru buat berkontribusi di jurusan ini, seenggaknya bagian CV-nya bagus.

Perjalanan dalam mengurus fieldtrip ini juga bisa dibilang luar biasa ngebentuk gw jadi lebih baik. Fieldtrip pertama gagal karena masalah birokrasi dengan pihak kampus setelah rumit-rumit mencari perusahaan yang mau dikunjungi dan mengatur jadwal. Disini gw belajar sabar dan ajaibnya, setelah itu eksekusi fieldtrip pertama yang jalan adalah sebuah fieldtrip yang ditawarkan dengan bekerja sama dengan suatu perusahaan yang butuh tenaga mahasiswa di seminarnya. Alhasil, fieldtrip pertama berjalan dengan bonus menginap di hotel, makan ditanggung, liburan ke Ciater, dan acara pesta malam-malam. Sungguh diluar ekspektasi!! Fieldtrip kedua adalah yang berjalan sesuai rencana. Dengan bantuan teman-teman yang lain, dan persiapan yang matang, fieldtrip berjalan tepat waktu dan berjalan cukup lancar. Fieldtrip ketiga seharusnya adalah fieldtrip yang berhasil karena kesepakatan sudah terjadi. Namun yang terjadi adalah harga minyak yang turun sehingga perusahaan tujuan  mengubah sepihak dan gagallah fieldtrip ini. Meskipun bgitu, karena ada kesepakatan, fieldtrip ini bisa berjalan di pengurusan berikutnya, semoga saja...

Dari segi lomba-lomba, gw ikut dua lomba yang menambah pengalaman gw. Gw mengikuti lomba semacam cerdas cermat untuk jurusan gw, smart competition. Gw membuat program yang bisa membantu gw menghafal dengan lebih katam sehingga hasilnya lumayan. Juara dua. Sungguh menyenangkan membayangkannya, dimana usaha keras bisa terbayarkan dengan kemenangan. Berikutnya adalah lomba serupa namun dilaksanakan di Malaysia. Gw berjuang cukup keras untuk lomba ini. Tapi dalam hati gw, sebenernya menang atau kalah, gw tetep senang karena bisa liburan bareng teman-teman gw. Oke gw kalah hahaha. Tapi rasanya jalan-jalan dengan teman emang beda daripada dengan keluarga. Hematnya (nginep di hotel vs di bandara!!), gilanya (istirahat di hotel vs, main tiban-tibanan), maruknya (capek balik ke hotel vs kalo bisa jalan terus), kebersihannya (mandi sebelum jalan2 vs ga mandi 3 hari) semuanya lain!!  benar-benar nikmat yang ga pernah terbayangkan sebelumnya.

Muncullah Kesudahannya

Menurut gw pengaturan semester ini ga sehat. Semester yang ada di atas adalah semeter 7, yang berarti akan berakhir dengan masuknya semester 8. Semester 8 ini adalah semester dengan waktu kosong terpanjang selama gw kuliah. Bayangkan kuliah di hari Senin saja, dan saya cukup tertolong karena mengambil pelajaran tambahan diluar sks wajib pada hari rabu. Sesuatu terjadi di akhir semester 7 dan keadaan semester 8 benar-benar tidak suportif!

Akhir semester 7, terjadi sesuatu yang ga pernah juga terjadi sebelumnya.. Saat gw belajar, gw merasa pusing banget. Gw takut gw kenapa-kenapa! rasanya menarik napas pun sulit sekali! Gw jalan-jalan keliling rumah untuk merasa lebih baik. Teman yang lain bingung apa yang terjadi. Gw berbaring di kasur, tetapi gw tetap sesak.Pusingnya juga semakin parah. Gw akhirnya menyadari, gw sangat takut jika saat itu mati! mengerikan sekali membayangkan saat itu. Gw berpikir jangan-jangan gw punya asma, karena gw inget guru gw ada yg meninggal akibat asma dan tidak ada yang tau. Gw dilarikan oleh teman-teman gw ke UGD dan gw makin tersugesti bahwa gw asma. Gw juga takut saat itu gw stroke, dan itu menyebabkan bayangan gw yang aneh-aneh tentang yang akan terjadi. Gw sedih. Terlintas di pikiran gw dosa-dosa yang gw pernah lakukan. Rasanya benar-benar ga nyaman. Gw masih ngerasa untuk bernapas rasanya sesak sekali. Gw ngerasa ingin sekali saat ini lewat dan hidup dengan lebih baik jika ada kesempatan di kemudian hari.

Akhirnya kami sampai di rumah sakit. tempat tidur UGD penuh!! Gw pikir ini masalah baru yang gw harus hadapi. tapi dokter dan susternya tenang. Gw emang ga pernah punya sejarah asma, sehingga mereka tenang. kandungan oksigen di darah juga normal.

Setelah diperiksa, TERNYATA GW SAKIT MAAG!! Itu bikin gw diketawain sama orang-orang yang nganterin gw. Gw juga baru tau kalo maag bisa bikin sesak napas. Benar-benar lucu dan memalukan. Coba gw tau maag bisa bikin begitu, gw udah beli obat maag aja deh daripada ke UGD hahaha.

Tapi ga cuma disitu. Beberapa hari kemudian, kepala gw terasa pusing sekali, dan gw merasa seperti ga bisa ngebedain atas dan bawah. Semua terjadi saat gw berusaha untuk tidur. Gw mulai takut gw akan mengalami stroke. Setiap jalan gw pusing dan mual. Bahkan duduk dalam mobil bikin gw ngerasa mau muntah. Mengerikan sekali. Gw selalu berharap kapan hal kayak gini berakhir. Bikin capek. Gw bahkan bawa mobil ke mall nemenin mama belanja, tiba-tiba rasanya jalannya bergerak sendiri!!

Karena keluhannya banyak, nyokap gw bawa gw ke rumah sakit untuk ke dokter syaraf. Tetapi karena harus naik mobil, sampai di rumah sakit, gw merasa sangat pusing. Akhirnya gw masuk UGD lagi di rumah sakit berbeda. Dokter pun datang dan mendengar keluhan yang disampaikan oleh mama gw. Setelah mendengar keluhan tersebut, dan sejarah sebelumnya pernah masuk UGD, dokter mengetok lutut gw dan tiba-tiba lutut gw bergerak begitu kencang. Dokter bilang ini karena terlalu tegang otot lehernya.  Dia tanya tentang banyak minum kopi dan kurang istirahat, semuanya cocok hahaha. Dokter menyuntik leher gw yang sangat kaku, dan tiba-tiba mata gw lebih cerah. Gw pun merasa enakan. Setelah itu gw menjalani MRI, dan tidak ditemukan apapun di kepala saya. Gw senang dan tenang, tetapi gw bingung apa yang menyebabkan hal-hal ini terjadi.

Sugesti dan Serangan Panik

Awal semester 8 Gw harus pergi ke Tuban untuk menjalani kerja praktek. Itupun diundur karena setelah dari rumah sakit, gw  masih merasa pusing, seperti vertigo.  tetapi karena mendesak dan gw sudah merasa enakan, gw akhirnya pergi ke tempat antah berantah yang ga pernah gw kunjungi sebelumnya, perbatasan Tuban dan Bojonegoro. Program yang gw canangkan disana adalah pergi, bertahan, hasut supaya bisa cepat pulang, pulang lalu ke dokter. Gw ga peduli dengan apa yang gw dapat disana, karena toh cuma satu sks, tapi gw takut karena gw ga tau harus kemana jika terjadi apa-apa disana. Setiap hari gw merasa ada yang salah di kepala gw. Gw ngerasa pegal di leher, dan gw coba meraba bagian leher yang tegang. Kadang pindah ke kepala kanan, kadang pindah ke kepala belakang, semuanya ga logis memang. Semakin dipikirin semakin pusing. Saya saat itu ga tau kalau itu semacam sugesti, dan kalau lu ngalamin hal ini, percayalah itu pun hanya sugesti, jika lu ngerasa sakitnya berpindah-pindah. Gw bahkan pijat seminggu sekali selama di Tuban untuk tetap rileks dan mudah-mudahan ga berasa sakit lagi. Tapi aneh, tukang pijatnya bilang otot-ototnya sudah tidak kaku, tetapi leher saya rasanya tetap ada yang aneh.

Akhirnya Gw pulang. Sekali lagi gw ke dokter syaraf itu dan dia kasih obat yang katanya mengurangi sisa-sisa pusingnya. Dia suntik leher gw lagi, tapi dia bilang itu cuma berefek sementara. Akhirnya gw pulang dan minum obat itu, yang sebenarnya adalah obat penenang. Gw balik ke Bandung dan berusaha untuk tetap memakai obat tersebut. Tetapi seperti yg gw bilang tadi, semester 8 ini gw kuliah hanya senin dan rabu, itupun dosennya belum tentu masuk. Ini membuat perasaaan tidak nyaman kambuh karena tidak ada kerjaan yang mendistraksi fokus gw. Gw ga tenang sendiri di kosan, karena itu bikin gw ngerasa ga ada yang jagain gw dan fokus pada rasa sakitnya. Bahkan gw sempat sangat takut sehingga gw naik motor ke rumah tulang (paman) gw sehingga gw ngerasa aman. Menurut gw sih, hal ini terjadi karena rasa takut masih menghantui gw. Gw teringat juga senior gw yang sedang belajar di kosan meninggal. Gw takut tentang pemain Laskar Pelangi yang meninggal di kosan sendiri. Saat itu rasanya seperti sangat real, padahal gw geli sendiri waktu menulis ini. Lucu, rasanya kayak orang yang ga percaya Tuhan.

Karena banyak pelajaran kosong, gw berniat menuntaskan hal-hal yang ga penting ini. Gw pulang tiap minggu buat ketemu berbagai dokter. Pertama ke dokter syaraf lain. Disana gw dibilang sedang stress. Tapi gw sendiri ga tau stress kenapa, orang pelajaran juga tinggal dikit. Minggu berikutnya gw brusaha ke dokter fisioterapi, dan memang menurut dokternya leher gw masih kaku banget dan dia suntik mungkin ada 8 titik.. Jangan dibayangkan hahaha kemudian di panaskan dan diberi getaran.. Sementara saja berlalu, tapi beberapa hari berikutnya kambuh kembali.

Untung gw punya orangtua yang baik, lalu gw diajak ke pskiater. Di pskiater, ternyata ini adalah yang disebut Serangan Panik, sebuah gangguan yang terjadi karena terlalu aware dan menurut yang gw cari diinternet, biasanya terjadi karena pikiran negatif, kemudian tubuh merespon dengan menjadi lebih awas, sehingga kita merasa ada yang aneh ditubuh kita, kemudian tubuh semakin awas dan tegang, berputar terus sampai merasa tenang kembali. Gw diterapi dan diberikan obat sehingga lebih tenang dalam menjalani hari-hari. Tetapi gw sangat sadar bahwa ada pertanyaan yang harus gw jawab dari kejadian ini. Sebagai orang kristen, rasa cemas adalah sesuatu yang dikatakan tidak boleh.

Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” .


Hikmah Dalam Masalah

Lucu memang mengetahui apa yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita. Sayangnya, ada hal yang ga bisa diubah. Semester 8 tetaplah semester yang kosong dan banyak waktu yang dipakai untuk berpikir hal-hal yang abstrak, karena ga ada kerjaan sebenarnya.

Gw sagat menyadari bahwa hal ini hanya bersifat sementara, tapi gw sangat percaya cepat atau lambat, hal ini akan terjadi lagi pada saat gw PENSIUN. Lucu memang orang masih umur 22 tahun mikirin pensiun. Tetapi toh gw udah ngerasain ga enaknya pensiun itu, terlebih ketika ga ada kerjaan dan yang memang dibayangkan adalah kapan waktu hidup gw akan selesai. Mungkin paniknya akan lebih besar daripada yang terjadi sekarang. Gw ngerasain bener kalau semua hal-hal besar dan luar biasa yang gw lakukan di semester 7 bisa sirna tiba-tiba di semester 8. Ga ada bekasnya, percikan senangnya pun tidak kecuali di CV. Ya mungkin saat gw pensiun pengalaman, penghasilan, dan usaha gw akan jauh lebih besar daripada sekedar semester 7 gw, tapi jelas gw ga mau ngulangin kesia-siaan yang terjadi di semester 7 dengan kesia-siaan yang lebih besar di saat pensiun nanti. Maksud gw, gw mungkin punya usaha kesenian dimana-mana, bantuin masyarakat sekitar di pedalaman Indonesia, rumah gedongan, dll. Tapi di kasur pesakitan, gw ga akan mikirin itu. Gw akan mikirin dosa apa yang sudah gw perbuat, dan apakah gw layak masuk surga.

Disini gw mulai ngerasa harus ada yang diubah mulai dari sekarang hingga pensiun nanti. Gw ga mau ngerjain sesuatu buat tujuan yang akan gw tinggal di dunia. Gw bisa ngembangkan kesenian manapun dan bantu ekonomi daerah manapun sehingga Indonesia punya identitas yang kuat. Tapi hal itu ga ngebantu apapun ketika gw harus mengalami kenyataan bahwa gw harus pensiun, karena yang diingatkan adalah dosa gw dan gw pasti harus merasa menanggung itu, JIKA gw ga pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tapi karena gw telah sadar kesia-siaannya, gw berusaha tidak terjerumus pada kebiasaan-kebiasaan lama. Gw sadar semuanya akan ditinggal di dunia, mungkin kesenian, mungkin rumah, atau uang.

Lalu kalau gitu, apa yang harus gw lakukan? toh semuanya akan ditinggal di dunia kan. Kenapa ga sekalian aja bersenang-senang mumpung masih hidup? Tapi itu ga menjawab alasan kenapa gw harus tetap survive sampai kesudahannya! Gw semakin mencari-cari baik di internet maupun alkitab.

Tapi gw mulai sadar, bahwa sebenarnya gw udah mulai berubah. Gw ga pernah nyontek pas ujian di SMA karena gw sangat percaya nilai itu cuma angka. Alhasil ranking gw selalu merosot hingga ranking 10 besar kelas, tapi dari belakang! tapi toh gw bukan orang yang palsu dan apapun yang orang lihat adalah gw yang sebenarnya.Gw sangat percaya masa depan gw di tangan Tuhan dan gw cukup memberikan apa yang terbaik yang bisa gw berikan. Gw bahkan ga lip service saat wawancara masuk STIS, mau pilih mana, STIS atau ITB, meskipun gw belum tau nasib gw, gw bilang gw jujur mau masuk ITB. Gw juga berusaha masuk jurusan yg gw mau dengan sebaik-baiknya,meskipun ga layak secara nilai tapi entah kenapa gw tetap masuk.

Tapi begitu tekanan begitu besar di kuliah dan gw mulai sadar bahwa nilai di kuliah itu dipakai buat cari kerja, gw mulai membangun bangunan dari apa yang bersifat palsu. Gw mulai merasa apa yang gw lakukan di STIS adalah suatu kebodohan karena mempertaruhkan masa depan dengan kata-kata sepele, yang sebenarnya gw tinggal bilang gw mau masuk STIS dan gw punya pegangan tempat kuliah jika ditolak di ITB, toh masa depan gw jg bakal terjamin disana. Gw mulai berpikir bahwa gw ga bisa dengan nilai yang jelek terus biar bisa masuk perusahaan, sehingga gw berusaha untuk memperbaiki nilai gw, Apapun caranya. Yang gw maksud dengan apapun adalah apapun, seperti menyontek, tipu-tipu dll Akhirnya saat gw sangat kosong seperti di semester 8, kebiasaan gw terlalu mengikat sehingga gw ga punya effort lagi untuk belajar, karena toh tanpa belajar gw bisa dapet nilai bagus. Gw mulai membangun rumah di atas pasir. Gw juga mulai berusaha membangun masa depan dari CV-CV yang gw kumpulkan satu persatu. Gw mulai membangun di atas pasir! Dan bangunan yang dibangun diatas pasir, akan runtuh saat badai datang! Tiba-tiba harga minyak turun dan perusahaan tidak buka lowongan. sia-sialah mengumpulkan cv hahaha... Ujian komprehensif, yang setara dengan UN di SMA pun tiba, dan berat sekali untuk mulai mengatur ritme kembali.

Gw mulai mengikuti ritme keadaan dan ga punya ritme sendiri yang disebut alkitab "lebih dari pemenang", yang percaya Tuhan di pihak saya apapun keadaanya. Gw mulai berusaha menentukan nasib gw sendiri sehingga menjadi khawatir dan sangat awas tentang kemungkinan gagal yang dapat terjadi.

Disini gw mulai sadar apa yang harus gw lakukan. Gw mulai menyimpang dari visi gw tentang Indonesia yang telah gw jabarkan sebelumnya. Karena mengandalkan diri sendiri, visi tersebut bukanlah hal yang besar lagi di mata gw. Gw mulai cari apa yang orang-orang cari, padahal gw udah menemukannya dari dulu. Sejauh ini Tuhan masih arahkan biar visi ini terjadi dan chancenya masih besar banget!! Kalau memang ini bukan yang Tuhan mau, pintunya pasti akan ditutup dan gw akan diantar ke visi dan tujuan lain yang lebih besar.Tapi visi ini belum mati. Mungkin Tuhan memang mau bantu masyarakat Indonesia lebih sejahtera, dan mungkin lewat gw. Tapi semua ga bisa dengan kekuatan sendiri. Dengan begitu, gw amemiliki sesuatu yang besar untuk dikerjakan dan gw akan tetap tenang karena bantuannya adalah kekal!! Mungkin ituah kenapa gw ga tenang saat berusaha dengan segala cara. Gw mulai merasa visi ini bukan arahnya dan tiba-tiba gw sendiri bingung arahnya yang mana hahaha. Gw sedang berusaha ngambil jalan ke kiri padahal lomba larinya ke kanan! perlombaannya jadi ga berarti lagi akhirnya.

Gw memang harus merevisi tentang sudut pandangnya, bahwa memang kesenian, rumah, dll bersifat sementara. Tapi gw percaya Injil ga bisa disebarkan dengan melalui kata-kata saja, dan Tuhan sendiri ada waktunya untuk memecah roti dan membagikan untuk orang yang kelaparan. Dan sebagai bagian tubuh Kristus, sudah menjadi bagian seseorang untuk menjadi kesaksian hidup bahwa Injil diberitakan dengan solusi masalah kesejahteraan, bukan cuma hal yang ngawang-ngawang. Lagian, dengan gw menjadi warga negara Indonesia, kebudayaan Indonesia sudah jadi warisan gw dan sudah banyak pendahulu yang mempertahankannya demi identitas dan kemerdekaan bersama. Jangan sampai seperti Esau yang  menganggap enteng hak anak sulung, mungkin disini seperti hak sebagai warga negara, untuk mewarisi budaya yang indah dan makanan yang enak-enak hahaha.. Dan memang itulah nilai tambah yang paling visible untuk ditawarkan orang-orang di daerah-daerah di Indonesia, yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan..

Masalah kalau visi ini ga sesuai itu urusan belakang, karena gw percaya Tuhan mengasihi gw dan pasti bersedia mengarahkan jalan gw. Apalagi visi itu pasti disesuain dengan keinginan kita dan kemampuan kita juga. Mungkin itu yang dibilang "kuk yang dipasang itu enak", karena gw akan lomba lari karena hobi lari, bukan disuruh lari meskipun hobi berenang. Gw memang ingin mengerjakan ini karena gw hobi makan, karena gw senang denger musik, dan gw mau orang lain bisa makan dari hobi gw ini.. Semoga kesampaian. Amin....


 YEEEYY akhirnya gw ketemu jawabannya!! sebenernya dengan nulis ini gw sedang berusah nyari jawaban yang bikin gw tenang ini dan lu semua jadi pembaca yang baik. terima kasih :D

Tetapi kalau dari lu pada ada yang merasa akan mengalami kesendirian dan mengingat dosa-dosa yang udah lu lakuin di saat terakhir, dan terintimidasi dengan hal itu, percayalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka ada ketenangan yang melampaui segala akal disana! Mengapa hal ini benar? Karena Yesus datang sebagai Tuhan yang dilahirkan dari perawan, Ia tidak berdosa, dan karena Ia tidak berdosa, hanya Yesus yang mampu menyelamatkan manusia. Hal ini disaksikan dalam Injil yang ditulis oleh pengikut Yesus yang berbeda dan di tempat yang berbeda (Injil ditulis daam 4 kitab di Alkitab), namun kisahnya yang sama! Kebangkitan dan kenaikan disurga disaksikan dan orang-orang yang menyaksikan masih hidup ketika surat-surat di Alkitab ditulis. Bahkan kuasa mujizat itu masih nyata seperti yang ada di tv-tv. Orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan. Hal ini hanya mungkin dilakukan oleh Tuhan yang sudah mengalahkan kematian. Apa yang membuat ragu?

Dan kalau lu ngerasa ga tenang karena bingung hrus ngapain ke depan, Percayalah Tuhan yang menyediakan, dan doakan visi apa yang harus kau raih.. Percaya saja visi itu enak buat lu dan dengan perasaan ringan lu bakal capai... Amin


READ MORE - Tujuan Hidup

2014/08/15

My Opinion About Indonesian People

I just share a little.. If you love it, please upvote the post here in 9gag.. Thank you


READ MORE - My Opinion About Indonesian People

2014/08/14

Natural Hot Spring, Sari Ater

It is very relaxing to be in this hot spring, Sari Ater, West Java. I also recommend you to stay at the Sari Ater Hotel so you can get into the hot spring as many times as possible. But if you are not staying and just go to the hot spring, beware of the scammers who try to tell you that the hot springs is closed, the hot springs is very expensive now and recommend you other place they got, etc, even before you are arrived! The places they offer are not worth it and you can spend more money there. Ignore them, keep going and you will get the hot springs people talking about. The largest one and not as expensive as the scammer said. Sometimes the official got the commission from the scammer too, so they also offer you the expensive package (include hot swimming pool, etc) and trying to convince you that the cheap one is bad because it is just a river. Well, you are looking for natural hot spring right? So, that's all you need, bro! It is good to have the package to the swimming pool, but it is hot that all you will do is sit and sleep there. Not different with the natural one! So, beware of people, and I recommend you to stay at the hotel because these problems won't happen since you have the right to swim anywhere as long as you are the hotel's guest.


READ MORE - Natural Hot Spring, Sari Ater

2014/06/18

Discovery of Carnivorous Water Rat in Indonesia

Jacob Esselstyn, curator of mammals at LSU’s Museum of Natural Science, was part of a research team that discovered a carnivorous water rat in central Indonesia. The species was previously known only to local people in the western highlands of Sulawesi Island, and has been used as a talisman by area residents to protect homes from fire.

Published in the zoological taxonomy journal Zootaxa, the discovery of the new genus and species of mammal, “Waiomys mamasae,” documents the first known water rat from Sulawesi and the wider Southeast Asian region. Other semi-aquatic rats are known from New Guinea, Australia, Africa and South America. The authors indicated that, like other semi-aquatic rats, the new species feeds on aquatic insects that attach themselves to stream bottoms.

The scientists used DNA sequences to demonstrate that the new species is not a close relative of any other water rat species, including those of New Guinea and Australia. This indicates that the morphological features the Sulawesi water rat shares with other water rat species are the result of convergent evolution – meaning that these distantly related animals have been living in similar environments and independently evolved similar adaptations.

“The Sulawesi water rat and the water rats of New Guinea are no more closely related to each other than either is to the house mouse or the lab rat, but they live in similar environments, which may explain their convergent morphologies,” said Esselstyn.

The local people know the animal as “balau wai,” or water rat in their language, Mamasa Toraja.  The scientific name, “Waiomys mamasae” meaning “water rat of Mamasa,” recognizes their prior knowledge as well as their contribution to the scientific discovery of this species.

“The forests near Mamasa are some of the most intact on Sulawesi,” said Anang Achmadi, a scientist at Museum Zoologicum Bogoriense in Indonesia and co-author of the study. “Their excellent condition is a testament to the Mamasan people, who limit clearing of forests to the base of the mountain.”

In the 19th century, Alfred Wallace, co-discoverer of natural selection, described Sulawesi as an “anomalous island” because the animals he found there were so unusual.
“Sulawesi’s ancient history of geographic isolation, along with its many high mountains help explain why it is home to so many strange animals,” said Esselstyn.

He added, “It’s a real thrill to follow in the footsteps of early naturalists and to still be discovering so many new animals. But the fact that the people of Mamasa knew of Waiomys and keep them as talismans suggests the research community has a lot of work to do before tropical biodiversity will be well documented.”

Source
READ MORE - Discovery of Carnivorous Water Rat in Indonesia

2014/06/08

The island of Java is home to the Cemani, a chicken that is jet black from head to toe

I found it in 9gag and it is interesting. So i'll just put the picture here to show to you all and to remind me I have "things to do with this big black cock" LOL. sounds not good, I mean here do research about this big black cock.

Well, I said "research"  and that doesn't make things less NSFW, thanks to the internet for ruining my brain!I mean here the real research and blog about it.




Link on 9 Gag: here
READ MORE - The island of Java is home to the Cemani, a chicken that is jet black from head to toe

2014/06/03

Indonesia: Wisata dan Budaya

Salam sejahtera semuanya, gw harap semua yang membaca blog ini dalam keadaan sehat, sejahtera, dan damai hatinya. Biarlah kita semua menjadi pembawa kedamaian dan saling bahu-membahu menjaga keamanan negara kita, serta bijak dalam bersikap diantara sesama manusia, terlebih saudara sebangsa setanah air. Amin…

Hampir setiap liburan sekolah, kegiatan wajib yang gw lakukan adalah merencanakan liburan dan pergi berlibur ke suatu tempat yang kata orang seru, dan menghabiskan waktu beberapa hari di sana untuk menikmati liburan Juni atau Desember. Hal ini cukup banyak telah menjadi semacam ritual tiap tahunan di keluarga gw. Almarhum Ayah gw kerja di Garuda Indonesia, sehingga sudah menjadi jatah kami tiap tahun untuk terbang ke daerah manapun dengan pesawat Garuda gratis, tentu saja selama daerah tersebut adalah destinasi dimana pesawat Garuda terbang kesana. Hingga saat inipun jatah tersebut masih ada, sampai dua tahun ke depan, dan setelah itu hanya Ibu gw saja yang memperoleh jatah terbang.

Semenjak  TK hingga SD, lupa kelas berapa, kami hanya memakai jatah kami untuk pergi ke Medan, kampung halaman gw. Sampai saat ini, gw lupa berapa kali gw ke Medan waktu masih kecil. Tapi, gw sangat ingat destinasi selain Medan yang gw tuju pertama kali adalah Bali. Tujuannya pergi ke lain tempat setelah gw agak gede sih, katanya, biar ga sayang jatahnya. Kalau pergi waktu masih kecil, pasti waktu udah gede akan lupa, jadi mubazir. Gimanapun, ga tau entah kenapa sampai saat ini gw masih inget, hal pertama yang gw tanyain waktu sampai di Bali adalah “Opung mana? Dijemput Opung?” Dan saat itulah gw dijelasin bahwa naik pesawat belum tentu pergi ke Medan. Lu bisa pergi kemanapun dengan pesawat terbang.. Ah, polosnya pemikiran gw waktu itu. Setelah itu gw ga inget banyak. Gw cuma inget jalan kaki malem-malem di pantai bareng-bareng. Gw juga inget disuruh Ayah gw supaya jangan deket-deket sama orang mabuk.

Bali, gw udah beberapa kali ke sana. Tidak usah ditanyakan lagi indahnya. Dari sunrise hingga sunset, dari pemandangan hingga makanan, dari kota hingga desa, dari main sampai belanja, semua bisa diperoleh di Pulau Dewata ini. Kalau gw boleh saranin, kalau mau promosi sebaiknya jangan Bali. Udah terlalu terkenal. Lombok misalnya, dengan pasir putihnya, dengan pantai-ppantai yang sepi, jelas pilihan yang tepat untuk liburan. Di Lombok, makanannya lumayan enak, dan gw bawa pulang pasir putih yang bersih buat isi akuarium gw. Gw juga bawa pulang anyaman dan keramik yang lucu. Sungguh, kalau mau merasakan lonely island, Lombok lumayan mendekati kriteria. Yang agak sedikit mengganggu adalah orang-orang yang jualan pas kita lagi enak-enak tidur di pantai, tapi masih reasonable karena sedikit yang datang.

Manado, buat gw yang orang batak pemakan segala, ga ada yang salah dengan makanan Manado. Kenyang gw disana. Dari Bunaken, pantai-pantai lain, kuburan kuno jongkok (makam raja yang dimakamkan dalam keadaan jongkok), dan jangan lupa, klappertaart. Benar! Klappertaart asalnya dari Manado, bukan dari Bandung!

Jogja, kota yang menarik buat pergi ke candi-candi, makan murah, pantai dan keraton Jogjakarta. Museum affandi juga cukup berkesan buat gw. Sampai sekarang, gw sangat ingat salah satu lukisan di dalamnya, lukisan kepala pecah. Cukup mengerikan, tapi entah mengapa lukisan itu yang gw ingat.

Gw juga pernah di Jakarta (pastinya), Bandung, Medan, Anyer, Papua, Surabaya, dan Batam. Jelas terpesona dengan keunikannya masing-masing.

Kemudain dengan semakin besarnya usia gw, perjalanan mulai melebar ke negara lain. Dari negara Asia dan Eropa, karena Garuda memang menjangkau dua benua tersebut. Jelas suatu keberuntungan buat gw. Keuangan memang kata nyokap gw biasa aja, bukan hal yang bisa dipamer-pamerin. Tapi gw bersyukur buat kesempatan yang Tuhan berikan untuk merasakan pengalaman jalan-jalan yang mungkin orang yang kaya mikir-mikir dulu. Jadi sebenarnya pengalaman lah yang gw peroleh, bukan hedonisme, karena jelas untuk berhedon saat jalan-jalan mikirnya “berapa harganya kalau di kurs ke rupiah? Jangan-jangan bisa beli di Tanah Abang lebih murah” :D

Beda rasanya tercengang di negara lain dan di negara sendiri. Saat tercengang di negara sendiri, entah kenapa gw ngerasa seneng banget karena gw tau kalau gw udah besar, gw cuma perlu nyisihin duit untuk biaya transportasi dan gw bisa beristirahat di sana. Kalau tercengang di negara orang? Bawaannya marah, kecewa, dan greget. Kenapa? Gw selalu ngerasa apapun yang bisa bikin gw tercengang di negara orang, gw rasa sebenarnya bisa diterapin di Indonesia! Kurang indah apa wisata kita, sampai-sampai di tempat lain bisa mengambil keuntungan lebih besar, bisa memperoleh pendapatan lebih yang ujung-ujungnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Gw ngerasa ada yang salah dari istilah “terlalu banyak kekayaan alam dan budaya kita” sampai kita tidak tahu apa yang bisa kita kembangkan!

Singapura dan Malaysia merupakan negara tetangga kita. Rapih, modern, dan teratur. Tapi jujur, gw ga terlalu mengerti tentang Singapura. Menurut gw, overrated. Mungkin karena gw ga hobi belanja. Tapi ke Singapura untuk menghabiskan hari tua bukanlah bayangan yang menarik buat gw. Gw rasa modern yang dipaksakan itu membuat kita kurang peduli dengan siapa yang ada di sekitar kita. Stress, dan pengkotak-kotakan/stereotype suku dan ras menurut gw sangat kental disana (karena ada tiga ras utama disana). Gw sangat bersyukur gw tinggal di negara yang sukunya terlalu banyak untuk stereotype, meskipun jujur untuk Medan, gw tau bagaimana sinisme yang ada antara Tionghoa dan Batak. Ini cukup banyak dan lebih kental terlihat di Sigapura dan Malaysia. Hal ini membuat rasa tidak nyaman untuk berinteraksi dengan orang lain karena stereotype yang tertanam di kepala kita, dalam hal ini gw sebagai orang Batak saat gw belanja di Singapura.

 Gw sendiri ga terlalu suka jika orang Batak melihat Tionghoa secara sinis dan curiga, karena gw tau orang Batak juga ga semuanya baik. Gw juga ga suka kalau lagi ngumpul lalu saling ngeluarin bahasa Hokkien. Maksud gw, gw kan juga ikut ngumpul, masa gw jadi orang “luar lingkaran”. Apalagi kalau bahasa sehari-harinya pakai bahasa Hokkien, mungkin banyak maknanya Sumpah Pemuda menyatakan Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Supaya kita lebih satu, supaya kita lebih saling mengerti, supaya kita nyaman satu dengan yang lainnya, menghindari rasa saling curiga, dll. Orang Batak? Gw juga ga mau dekat kalau bahasa sehari-harinya pakai bahasa Batak. Gw aja ga ngerti bahasa batak, jangan-jangan pada ngomongin gw. Gw setuju kita harus belajar bahasa Batak atau apapun suku lu, tapi gw meyakini ada konteks seperti acara keluarga atau acara adat atau yang lainnya yang menyatakan kesatuan suku. Jelas jika digunakan sehari-hari yang terlihat adalah arogansi suku, dan mungkin ini yang terjadi di Malaysia dan Singapura, sehingga kental sekali stereotype berdasarkan suku dan Ras. Satu suku, bukan satu Bangsa, dan seharusnya ini kita hindari.

Thailand adalah negara yang sedikit banyak mirip dengan Indonesia. Pantainya indah. Banyak kuil yang eksotis dan mencengangkan. Wisata alam dan pertunjukan yang seru. Keramahan penduduk terhadap wisatawan yang sangat kentara. Makanan yang enak-enak! Satu hal yang membuat gw sedih, apa istimewanya negara ini dari Indonesia? Sedikit tertegun bagaimana mereka MENGEMAS apapun yang mereka miliki menjadi lebih baik dan nyaman! Itu yang membuat berbeda dari Indonesia. Peninggalan budaya dan sejarah yang ada didominasi peninggalan situs Budha. Coba bayangkan berbagai jenis suku, budaya, dan agama serta kerajaan yang sudah “menghasilkan” situs di Indonesia. 

Tapi memang, yang membedakan adalah kenyamanannya. Kita pergi dari satu tempat ke tempat lain di Thailand tidak terlalu lama. Bayangkan jika di daerah-daerah di Indonesia, yang menjanjikan eksotisme, tapi untuk pergi kesana saja harus mikir beribu kali karena lelah dan makan waktu banyak. Cobalah ke taman Simalam di Sumut, Waruga (kubur jongkok) di Sulut, atau mumi di Papua. Pusing mikirin lama perjalannya dan rusak jalannya, ujung-ujungnya ya tentang biaya juga.

Kalau bicara biaya, ini juga mungkin kekesalan gw. Mungkin sudah biasa yang namanya tempat wisata ada scammer yang mencari uang lebihan. Tapi bayangkan di Indonesia yang meskipun ada scam, kita tidak bisa menemukan pihak yang berwajib (penjual tiket resmi), atau malah pihak yang berwajibnya kerja sama dengan scammer karena dapat bagian!!  Biasa ini ada di tempat wisata alam seperti sungai, air terjun, air panas, hutan,  yang malah mungkin sebenarnya gratis, atau dikelola pemerintah, namun tidak pernah diperhatikan. Alhasil, terserah mereka mau buat harga berapa, karena yang resminya saja tutup mata!! Sudah bayar di depan, di dalem disuruh bayar asuransi. Kalau ditanya penjual tiket resmi, katanya wajib, padahal yang disamperin hanya sedapetnya aja. Harga dibuat berkali-kali lipat. Harga parkir seenak jidat. Bagaimana kita mau promosiin hal-hal seperti ini? Jangankan negara orang, kita negara sendiri aja males kesana. Padahal yang mau dilihat paling hutan dan air terjun! (cobalah ke pantai yang sepi di Bali atau di hutan seperti di Banten.

Juga kalau bicara kemasan, mungkin kita kurang sadar bahwa  sebenarnya orang-orang tidak hanya membeli objek semata. Kalau gw ke suatu tempat atau membeli sesuatu, gw akan mempertimbangkan pergi ke tempat atau membeli benda yang terkenal dan unik disana, dan karena itu harus terkenal, artinya gw juga membeli cerita! Cerita ini yang membuat gw iri dengan Thailand.  Mereka bisa mengemas hal yang biasa dengan cerita yang menarik dan otentik. Bagaimana pijatan di pinggir jalan disebut sebagai "secret ancient massage" yang tidak berbeda rasanya dengan pijat refleksi di sini. Atau mengajak pengunjung berkeliling dengan kereta mini, melihat sejarah permata Thailand dan keindahannya, hanya untuk menawarkan permata jualan mereka. Fantastis! Mungkin  dalam konteks Indonesia bisa gw jelaskan seperti ini: Wayang terkenal karena memiliki cerita dan budaya yang kaya. Karena itulah gw akan lebih memilih membeli wayang Cepot daripada wayang berbentuk kelinci. Kalau gw beli wayang berbentuk kelinci, gw membeli boneka kayu yang menurut gw beli dimana-mana bisa. Tapi kalau wayang cepot, meskipun gw bisa membuat semirip mungkinpun, hasilnya tidak akan semahal filosofi yang terkandung dari buatan tangan orang Sunda. Cerita ini juga bisa datang dari mulut kemulut. Itulah mengapa ada banyak pantai di Indonesia, tapi di Bali yang paling dikenal. Karena kenangannya manis.Bayangin ke pantai tidak tertata penuh batu karang yang harus ditempuh melalui jalan rusak selama 5 jam dari kota terdekat, kemudian dikecewakan dengan harga dan “isengan” orang-orang lain. Jelas bukan pengalaman yang baik ( Pantai karang bisa kok banyak pengunjung,tapi kalau tidak tertata dan hospitalitynya rendah, mau bagaimana?). see? Ya, cerita itu yang mahal dan menarik! atau kalau orang bilang promosi atau iklan, tapi gw lebih senang untuk mengatakannya sebagai cerita..

Mungkin bicara kemasan, negara di Asia seperti Korea (Selatan) dan China lebih mengemas dari segi teknologi. Naik ke gunung Sheorak, cukup menggunakan cable car. Sangat nyaman. Masih terlihat bekas jalur yang digunakan pendaki menggunakan tali. Atau menggunakan alat alihbahasa genggam di lingkungan peninggalan kerajaan sehingga kita tidak hanya melongo tanpa tau apa cerita yang ada di hadapan kita. Atau  pulau Nami yang dipasangi speaker setiap beberapa meter dan memutarkan lagu sehingga kita merasa seperti tokoh pada film Winter Sonata yang terkenal itu dengan musik pendukungnya.Ya, mungkin memang teknologi seperti ini yang mendukung keindahan wisatanya. 

Kemasan cerita yang lebih bagus adalah negara seperti Brussels dengan patung anak cowok kencing berdirinya. Gw sebenarnya ga terlalu ngerti apa cerita di balik patung tersebut, tapi jelas icon tersebut dapat dijadikan destinasi utama negara tersebut. Bayangkan, patung lebih kecil dari ukuran orang dewasa, dicari  wisatawan untuk satu negara bernama Brussels! Berapa banyak patung yang mengisahkan perjuangan di Indonesia, mengisahkan cerita cinta, yang bisa dibumbui dan dipromosikan di seluruh dunia? Yang lebih bagus? Banyaaaaak. Kalau memang niat, patung kereta api di depan Stasiun di Bandung, atau patung Sigale-gale di tapanuli pun bisa dipromosikan jika ditata lebih baik. Sekarang prasasti peninggalan kejayaan Tarumanegara pun tidak dikemas seperti monumen yang memiliki semangat kejayaan layaknya museum di Keraton Jogjakarta.

Gw mau menutup curhat gw dengan menggambarkan Paris. Paris memang gw akui benar-benar kota yang indah, ga dibuat-buat. Benar-benar pertunjukan seni yang dipersembahkan di seluruh kota dengan gedung-gedung artistiknya. Megah, dan indah. Selain itu, melihat Eiffel yang berkelap-kelip ketika malam tiba, ditemani musik jalanan dan waffle. NAGIH!!  Mungkin Indonesia terlalu luas, dan terlalu tidak merata untuk memusatkan kesenian kita di satu tempat dan menjadikannya kota khusus seperti Paris. Tapi untuk kesenian kita, gw tau kita ga kalah. Tahukah kamu  Soekarno pernah bermimpi Monas, dengan cerita perjuangan dan kemegahan emas diatasnya, menjadi setenar Eiffel? Semoga hal ini dapat cepat terwujud.. Mungkin curhat gw ga terlalu penting, tapi satu hal yang mau gw usahain dengan blog ini adalah gw mau belajar cerita dibalik budaya, tempat, sejarah, apapun itu yang bisa gw ketahui.Suatu hari, gw berharap gw punya cukup duit yang bisa gw kelola untuk membantu seniman lokal dan objek wisata lokal, agar kita punya kebanggaan dan sumber kesejahteraan lokal sendiri di masing-masing tempat. Gw ga tau bakal untung besar atau untung kecil, atau kemungkinan besar merugi. Tapi gw meyakini budaya dan wisata kita bahkan bisa lebih menjanjikan dari yang ada sekarang, untuk kesejahteraan warga lokal. Gw ga ngerti tentang hukum, tentang politik, atau tentang ekonomi yang mengatakan hidup di Indonesia keras seperti kerja rodi di neraka. Tapi jelas, gw punya cukup pengalaman yang gw rasain sendiri untuk menyatakan Indonesia adalah surga di dunia. Because I Believe there’s a purpose God has made me in Indonesia!


Yeremia 29:7
"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."








READ MORE - Indonesia: Wisata dan Budaya

2014/06/02

Folklore from North Sulawesi: Wuwung Sewe and The Crocodile


A long time ago in Minahasa, there lived a fisherman. His name was Wuwung Sewe. He lived with his family near a river. Wuwung Sewe was a kind man. He liked to help other people.

Every day Wuwung Sewe went to the river to catch some fish. And after he caught the fish he sold them in the market. He liked his job very much.

It was a beautiful day. Wuwung Sewe was at the side of the river. He was ready to catch the fish. Suddenly he heard someone was asking for help.

"Help... Please, somebody help me...." Wuwung Sewe was looking around but he did not see anyone. He kept on looking but still, he did not see anyone at the river.

Wowing saw then walked along the riverside. The voice of asking was getting clearer and louder. Wuwung Sewe was sure that he, was getting closer. And finally, he found the source of the voice asking for a help.
It was not a man asking for a help, but it was a crocodile! And it was a very big crocodile. Wuwung Sewe was very scared. He was so shocked to see a crocodile was able to talk tike humans.

"Please, help me, there is a spear in my back. It's so painful...." said the crocodile.

"What happened?" asked Wuwung Sewe after he was calmed down.

"A hunter was trying to kill me. He threw his spear at me. Luckily I was able to save my life. The spear is still in my back. Can you please pull it out?"

Wuwung Sewe was actually very scared. However, he was very sorry to see the condition of the crocodile. He wanted to help the crocodile.

"Are you ready? I will pull it out now. Please hold, it might feel so painful," said Wuwung Sewe.

With a great effort, he pulled the spear out. It was not easy for him, but finally he succeeded.

"Thank you very much. You already helped me. Now what can I do for you?" asked the crocodile.

Wuwung Sewe suddenly remembered his children. He did not allow his children to play at the river side. He was afraid that crocodile would hurt his children. He then had an idea.

"Mr Crocodile, my wish is simple. From now on don't hurt my family," said Wuwung Sewe.

"Don't worry, I will ask my family and my friends not to hurt your family," said the crocodile.


Wuwung Sewe was very,happy. He was glad that he did not have to worry when his children played near the river. He had a friend who would guard his children. And his friend was the crocodile!

READ MORE - Folklore from North Sulawesi: Wuwung Sewe and The Crocodile

Folklore from Papua

Irian Jaya, or also known as Papua, is a great part of Indonesia which is rich in cultures and natural beauties. The famous Raja Ampat is there, and many other white sand beaches are also there.  

Basically, you may know the cultures and habits of the society of a place from the old story from that place, since most of the life value in Indonesian society was told from elder to younger people. After you hear or read an old story from some places of Indonesia, you will see that the story is deep and meaningful, even though you may hear some illogical things in the story, perhaps it was made to activate the creativity of the children, and also the flavor to make the story become more interesting. So here, I present to you a folklore from Papua.. Enjoy :)

Once upon a time, there was a man named Towjatuwa in Irian jaya (an old name for Papua). He lived beside Tami River.

He was sad, His wife was pregnant and it was too hard for her to deliver the baby. To help the baby, Towjatuwa needed surgical operation with a sharp stone he could get from Tami River.

When he was looking for the stone, he heard strange sound from his back. He was surprised to see a giant crocodile. He was scared. The crocodile slowly moved to Towjatuwa . This crocodile was different from other crocodiles. It had the feather of Cassowary at its back so it was scarier than other crocodiles.

Towjatuwa moved back to run, but the crocodile greeted him and asked what he was doing there. Then Towjatuwa told the condition of his wife. Then the crocodile answered: “don’t worry. I’ll come to your house tonight. I’ll help you and your wife.” Towjatuwa went home to see his wife. He told his wife about that crocodile happily.

The other night, the magical crocodile got into Towjatuwa’s house. With its magical power, the baby could be born safely. The baby got named, Narrowra. The crocodile portended that the baby would become a great hunter.

The crocodile, named Wawute by the local people who had heard this story and told it to their children, asked Towjatuwa’s family not to kill and eat any crocodile’s flash, or their entire family would be die. Towtjatuwa and his family promised that. They became the protector of river life in Tami River.


 Could you find the epic culture which is taught from this story to the younger generation?  You will see why the natural life of Papua is still good right now. Yes, we believe crocodile might endanger our life, and from the story, we know that it is quite common to see crocodile in the rivers of Papua. But after all, the kids were taught, indirectly from the story, that even though the crocodile is scary, they need to be protected as the part of nature. This story may has changed the image of crocodile in our mind. Smooth way, isn’t it?
READ MORE - Folklore from Papua

Pygmy Tarsier

The pygmy tarsier, with a head-body length of 95 to 105 mm (about 4 inches), weighs less than 57 grams (2 ounces), very distinct morphological features, a body length which is smaller than other tarsier species, and a small body weight, has become the smallest primate in the world.  It is also called mountain tarsier.

It has smaller ears than the rest of the genus, and its fur is tan or buff with predominant grey or brownish red coloring. The tail is heavily haired and ranges from 135 to 275 mm. The most noticeable feature of the pygmy tarsier is its large eyes, about 16 mm in diameter. The pygmy tarsier is nocturnal or crepuscular, and is mainly arboreal. 

It spends most of the daylight hours sleeping on vertical branches in the canopy. The pygmy tarsier is found on the island of Sulawesi. This species lives in the mossy, rainforests of central Sulawesi. It was believed that Pygmy tarsier had extinct since early 20th century, before some researchers found it in Sulawesi.

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mamalia
Order: Primates
Family: Tarsiidae
Genus: Tarsius

Species: T. pumilus
READ MORE - Pygmy Tarsier

Raja Ampat, The Trivia

The name of Raja Ampat comes from local mythology that tells about a woman who finds seven eggs. Four of the seven eggs hatch and become kings that occupy four of Raja Ampat biggest islands whilst the other three become a ghost, a woman, and a stone. As stunningly beautiful above water as it is below, Raja Ampat (which literally translates as “The Four Kings”) has a startling diversity of habitats to explore. Each of these – from the stark wave-pounded slopes that drop away beneath the karst cliffs of Wayag and Uranie to the deep, nutrient-rich bays of Mayalibit, Kabui and Aljui to the “blue water mangrove” channels of Kofiau and Gam to the plankton-rich upwelling areas of Misool and the Dampier Strait – are home to unique assemblages of species that, when taken together, add to produce the most impressive species lists ever compiled for a coral reef system of this size.
 

Underwater enthusiasts flock to this region because it offers the world’s best marine sights. 

Well, Many articles in internet shows you how beautiful the islands. But instead of that, these articles will advice you with some trivia and friendly illustration about what you’ll get there. After all, a well prepared vacation will make you enjoy your visit.

Some people said that it is better to go in October to April, with best chance of perfect conditions from mid-October to mid-December, This chance for perfect condition have decreased with weather uncertainty from global warming. But there’s actually no real off-season to come here. All you may get is sunny or rainy, that’s typical in tropical islands.

Raja Ampat homestays are not exactly homestays. You won’t be sharing a family’s home if you stay at one. You will however, be the guests of a Papuan family, staying on family owned land in what was once the only type of housing built in the islands. Be aware though, that accommodation at Raja Ampat homestays is basic and facilities and services taken for granted at many holiday destinations are generally unavailable. The following are not available at homestay accommodation: Air-conditioning, Internet connections, Spotless, insect-free rooms, Private or ensuite bathrooms with flushing toilets, Restaurants with a-la-carte menus and drinks lists, Room service (including housekeeping).If you regard any of the above as essential, then homestay accommodation is definitely not for you.

The local fishermen here are accustomed to foreigners and are friendly, especially when offered pinang (betel nuts) or some sweet candies. These are very popular and offering these sweets is considered polite and a good way to win an instant smile.

Some important preparations you should consider:

1. Prepare Your Camera

There’s absolutely contrition when you go to Raja Ampat and forget to bring the second important thing about your vacation here: everlasting memory in your album (of course, the first thing is your experience). No, the souvenirs are’nt as good as your photos from your own camera. Prepare the suitable camera according to the vacation you have planned (underwater camera for diver). Prepare the battery before you leave Sorong.

2. Buy Raja Ampat Pin

Without the pin, your vacation will be restricted only in Waisai abd Waigeo islands. There will be polices asking you to show the pin if you want to visit other islands in Raja Ampat. The price is Rp. 500.000,- (may have changed)

 3. Bring Rupiah

It will be very hard to get ATM here, and only in Waisai city, the capital of Raja Ampat, only accept some banks (BRI). Prepare it since you were in Sorong. And, if you had been to some places in Asia or other parts of Indonesia, forget about the estimated prices you had known before. Most of logistics here are from other bigger islands and main islands (Java, Papua, etc) and it is considered as remote area, so the price will be much higher for the transportation. Also the speed boat will take a lot of money too.
4. Bring personal medicine, or any special needs 
Same as the money, prepare the medicine since you were in Sorong. It is also valid for any internet access if you need (finish your job with internet before leaving to Raja Ampat), or any special needs for your computer, camera, handphone, etc.

5. Bring trashbag/plastic bag!!

Keep Raja Ampat clean! It is everybody’s responsibility to keep our nature beautiful and clean. Also your trash may harm animals here. Besides, Raja Ampat is a protected area and you will get penalty for damaging/harming the place.

6. Do not smoking in the boat

The petroleum for the boat is stored under the boat’s cabin. It is extremely dangerous to start smoking in the boat. The ship captain usually tells the passanger not to smoke in the boat, but in case he doesn’t tell you, you know that it is dangerous.

7. Bring more battery and dry bag

 It is very important to you to charge more battery every time you are in the homestay. Some homestay don’t provide 24 hours electricity, also all day long you will be in the boat, so more battery is better. Also since you will be in the boat, your electronics will need dry bag to keep them safe from water.

8. More Friends, Cheaper

The boats will be priced lower per person if there are full people in the boat. One boat can be used for about 15 passangers.
READ MORE - Raja Ampat, The Trivia

Anggrek

Suku anggrek-anggrekan atau Orchidaceae merupakan satu suku tumbuhan berbunga dengan anggota jenis terbanyak. Jenis-jenisnya tersebar luas dari daerah tropika basah hingga wilayah sirkumpolar, meskipun sebagian besar anggotanya ditemukan di daerah tropika. Kebanyakan anggota suku ini hidup sebagai epifit, terutama yang berasal dari daerah tropika. Anggrek di daerah beriklim sedang biasanya hidup di tanah dan membentuk umbi sebagai cara beradaptasi terhadap musim dingin. Organ-organnya yang cenderung tebal dan "berdaging" (sukulen) membuatnya tahan menghadapi tekanan ketersediaan air. Anggrek epifit dapat hidup dari embun dan udara lembap.

Tahukah kamu?

Anggrek Macan
Indonesia memiliki biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), serta Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Kalimantan dan Papua.







Anggrek Hitam
Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) adalah spesies anggrek yang hanya tumbuh di pulau Kalimantan. Anggrek hitam adalah maskot flora propinsi Kalimantan Timur. Saat ini, habitat asli anggrek hitam mengalami penurunan jumlah yang cukup besar karena semakin menyusutnya luas hutan di Kalimantan dan Papua, namun masih bisa ditemukan di cagar alam Kersik Luway dalam jumlah yang sedikit. Diperkirakan jumlah yang lebih banyak berada di tangan para kolektor anggrek. Dinamakan anggrek hitam karena anggrek ini memiliki lidah (labellum) berwarna hitam dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Sepal dan petal berwarna hijau muda. Bunganya cukup harum semerbak dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni. Anggrek hitam termasuk dalam anggrek golongan simpodial dengan bentuk bulb membengkak pada bagian bawah dan daun terjulur di atasnya. Setiap bulb hanya memiliki dua lembar daun saja. Daunnya sendiri sekilas mirip seperti daun pada tunas kelapa muda. anggrek hitam termasuk tumbuhan yang dilindungi undang-undang! sehingga dilarang mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan ini atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati serta dilarang mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Selain terkenal dengan keindahannya, bunga anggrek juga dikenal dengan ketahanan bunganya yang lama. Anggrek dapat ditemukan dengan mudah di hutan tropis yang ada di wilayah Indonesia. Sayangnya, keberadaan anggrek hutan yang tidak ternilai harganya kian terancam oleh perdagangan anggrek, serta tindak eksploitasi hutan yang menyebabkan hilangnya habitat asli anggrek. Sudah saatnya gerakan rehabilitasi dan pelestarian anggrek baik ek-situ maupun in-situ dilakukan secara gotong-royong tanpa harus bergantung pada program pemerintah. Masyarakat dianjurkan dapat berperan mandiri sebagai pelaku utama dalam kegiatan konservasi anggrek dengan koordinasi pihak-pihak terkait, sehingga “rasa memiliki” keanekaragaman hayati tidak hanya terbatas untuk instansi pemerintah saja…namun lebih utama yaitu pada masyarakat luas.

Anggrek Tanah

Anggrek Bulan



READ MORE - Anggrek

2014/05/29

East Kalimantan, a Surface Note

As a major producer of oil and timber, East Kalimantan at this moment is the most industrially advanced province in Indonesia. Oil, mining and logging bring prosperity to this province. Seasoned travelers might still be able to find adventures in relatively untouched places, and visitors who prefer comfort will find that most of the area here are pretty modernized.The original inhabitants of Kalimantan, the Orang Gunung or Mountain People. The tribes are collectivelly called Dayak, although this name is not embraced by many tribes-people themselves, who prefer to be known by separate tribal names such as Iban, Funan and Banuaq. Local tribes traditionally live in the communal longhouses called Lamin or Limaq Daru.

Dayak People
The Dayak or Dyak or Dayuh /'da?.?k/ are the native people of Borneo. It is a loose term for over 200 riverine and hill-dwelling ethnic subgroups, located principally in the interior of Borneo, each with its own dialect, customs, laws, territory and culture, although common distinguishing traits are readily identifiable. Dayak languages are categorised as part of the Austronesian languages in Asia. The Dayak were animist in belief; however many converted to Christianity, and some to Islam more recently. In the past, the Dayak were feared for their ancient tradition of headhunting practices. Coming of Christianity, with education where Dayaks are taught that headhunting is murder and against the Christian Bible's teachings.
If you go expecting to see head-hunters in loinclothes and feathers living in rustic longhouses you'll be sorely disappointed. All Dayaks wear modern clothing nowadays, and most of them live in modern houses.
But much of their culture remains alive and well, which is best witnessed during traditional festivals and ceremonies when they still don traditional garb, play traditional music and perform traditional dances. Weddings, harvest, illness or even New Year can be occassions to host such festivities.
Of course, seeing an authentic festival requires time and luck - though along the Mahakam River it is possible to arrange payed performances.
An important thing to realize is that the culture doesn't get more traditional the further inland you go.
The regions near the border have been heavily influenced both by fundamentalist Protestant missionaries and by the proximity of more developed Sarawak where many Dayaks go to work. In both East and West Kalimantan the more traditional areas are actually downriver.

Places
Mancong and Tanjung Issui Village These two village inhabited by Dayak Banuaq living on a long-house. Most visitor take a house boat on Mahakam River beginning from Loajanan the area just before Samarinda City from Balikpapan. Tanjung issui has a very well preserved long house, remodeled on the inside as a museum and hotel in the back with great rooms and a lovely view. Down the road from Tanjung Issui, Mancong's two story long house is inhabited by families and there are regular dance performances. it is very well decorated outside with many traditional banuaq style wood scupltures.

Tering Village where Dayak Tunjung and Kenyah with long ear woman are worth to visit. Next to Tering is Melak Village, the location of Black Orchid garden, it is called Gersik Luai it is a good 20 or 30 minute drive deep into the wilderness. Black Orchid season is late spring through autumn but you can see other species throughout the year.Two other longhouses worth visiting in this region are in Aheng (up the road from Melak) and Bigung (between Tering and Kutai Barat).

Labuan Cermin Lake Labuan Cermin, a cove in Biduk-Biduk district, Berau regency, East Kalimantan, is famous for its unique two-flavor lake water, fresh on the surface and salty at the bottom, with different types of fish coexisting alongside one another. It is also believed to have been a bathing place for Berau kings. For a better view of oil palm estates on hundreds of hectares of former forestland, you may chose to travel by land along the Berau–East Kutai route. The gorgeous views of Labuan Cermin or the Mirror Lake, likened by some to the beach Thai Phi Phi Leh Island where Leonardo DiCaprio starred in the film The Beach, is worthy of the four-hour trip.

Kutai Sultan’s Palace also known as Mulawarman Museum is situated in Tenggarong, the capital city of Kutai Kartanegara district. Mulawarman Museum is well-maintained that it provides convenience for visitors when taking museum tour to see the history of sultanate and its historical items. The museum looks strong and is dominated by white color.In this museum, various collections of Kutai Sultanate are presented e.g., royal throne, statues, jewelries, war attributes, beds, gamelan, ancient ceramics from China etc.

Skull Cave The skull cave located in the middle of a straight white chalk cliffs . The height of the cliff about 50 meters , and the niche it is at an altitude of about 30 meters .Goa was actually just a niche in the cliff , with a room about 1.5 meters high , 2 meters wide , 3 meters long . But , in the end it is still a niche narrow passage that no matter how long into the cliff . Karst cave in the mountains could be outside the visible small , but is actually a hole into the belly of the Earth are big and long . GOA contains dozens of human skulls and bones . Currently there are 35 skulls and 170 bones and bone fragments number . According to Derom , village residents to the river , this time there is one skull is kept in the State Museum of East Kalimantan ( Kaltim ) in Tenggarong .According to residents , human bones are neatly organized it is the bodies of their ancestors .The journey to this tourist spot is very easy because it is located in a village located on the edge of the trans - Banjarmasin Kalimantan Balikpapan . Precisely located to the right of the road from the direction of Balikpapan to Banjarmasin .A small clue board mounted on the side of the road . Distance from the main road to the cave about four kilometers by dirt road , but passable automobiles to the village river.

Melawai Beach This beach has a charm of a beautiful sunset , and romantic , this is the beach or Hammel Hammel beach is located along the road suderiman , precisely in East Kalimantan Balikpapan , Balikpapan city itself is mengadapat to Makassar Strait ( east ) and is famous for its mineral resource potential of the drilling first oil in Indonesia . Although the east-facing beach Hammel able to offer the charm of a sunset or the perfect sunset balikpapat because it is located in a small bay.

Samboja Lodge Located just 40 minutes from Balikpapan, Indonesian Borneo, Samboja Lodge is easy to be reached. Even with confirmation, the staff may even arrange for you to be picked up from the airport. there are many opportunities to get involved with the project (Create_Rainforest), which aims to reforest a large area of land that had been devastated by logging, fire and the subsequent spread of the alang-alang grass, with the long term goal of being a natural sanctuary for orangutan and other wildlifeOnly a few minutes walk away you can spend hours watching orangutans living on the protected islands, which cannot be released back into the wild due to certain blood disorders. Samboja Lodge is part of BOS International (Borneo Orangutan Survival Foundation) and is most concerned with creating rainforest and protecting and reintroducing its natural wildlife, so even by staying in the luxurious suites, you can be safe in the knowledge that the profits are going to a worthy cause.

Derawan is a perfect tropical paradise . Warm sunlight combined with beach , white sand smooth , swaying coconut trees and crystal clear sea that changes color from green to cobalt blue . Underwater life here is incredible , you 'll find giant turtles , dolphins , manta rays , dugongs , barracudas , and stingless jellyfish . Shark Derawan here is one of the precious biodiversity . With a wealth of underwater it is not surprising that later Derawan known as one of the best diving destinations in the world .Was not far from the mainland Berau regency , East Kalimantan Derawan archipelago consists of 31 islands and the most famous of which is the island Derawan , Maratua , Charitable , and Kakaban . Here nesting green turtles and hawksbill turtles rare . You can watch turtles lay eggs every day in the sand or swim with the sea turtles.

Art

Hudoq Dance Some 50 people, all wearing masks decorated with red-knobbed bill bird (enggang) feathers, emerged from one end of the Telivaq village by a tributary to the Mahakam River. Their bodies covered with tassels of banana leaves, each of them carried a wooden stick and a mandau (dagger). They walked towards the customary stilt house, which is 2-meters high and 12-meters by 20-meters square. As soon as they arrived, they danced round the house, led by the customary chief. The sound produced by their sticks when struck against the ground and the stamping of their feet, coupled by the long whining of the hudoq dancers, made your hair stand on end. After dancing collectively for about an hour, people began to dance individually. After the hudoq dance performance was completed, the audience could enjoy other cultural shows. In the Dayak Bahau language, hudoq means a mask. Except in Telivaq, the hudoq dance performed by the Dayak Bahau community in all other villages along the Mahakam (or Mekam in the Dayak Bahau language) river basin is the same.

Mandau Mandau is the traditional weapon of the Dayak people of Borneo. The blade is mostly made of tempered metals, with exquisite vine-works and inlaid brass. The hilt is made from animal horns, such as deer's horns, although some variations with human bones and fragrant wood also have been found. Both the hilt and scabbard are elaborately carved and plumed. Ambang is a term used for Mandau that is made from common steel. Often it is also made as souvenir.

Sampek In the Dayak language, Sampek literally means “Plucking with fingers”, therefore, it is a string musical instrument that is played with the fingers – not unlike the classic guitar. The name of this unique instrument itself varies across several sub-groups of Dayaks.  Sampek or Sampe is a term used by the Dayak Kenyah, while the Dayak Bahau and Kanyaan call it : Sape. The Dayak Mondang recognize the instrument as Sempe, while the Dayak Tunjung and Banua call it kecapai –similar to kecapi, a string instrument found in West Java.A Sampek is shaped like the traditional boat with a hollow stern –thus it is also known as a boat lute instrument. The front part is decorated with black and red plakat paint in traditional Borneo tribal patterns. Unlike a regular guitar, the neck and body are one, carved from a single tree trunk. If the tuning head of a Dambus of Bangka is carved in the form of a deer head, the Sampek’s tuning head is decorated with carving of the head of the Hornbill Bird. The Hornbill bird, known in the local language as ‘Temengan’ is an icon of the Dayak and is held sacred.

Food

Variety of food gifts including unique KaltimAmplang (snack crackers made from a mixture of fish, tapioca flour and spices spices), abon crab, abon fish, and shrimp crackers. There is also Gabin, a kind of dry bread which is also often hunted tourists. Porridge Samarinda and various crab dishes also one of the mandatory sights for visitors who come to the East Kalimantan. You will not be hard to find these foods in City of Balikpapan and Samarinda. Cempedak is the one of special food from this city. Banana clamp.Kepok banana (banana Studios) is burned, and then pinned by two board-scissors and cut into small pieces. Served with coconut milk and sprinkled with sugar Java cheese on it.

So far, the most recommended place to buy souvenirs is in East Kalimantan Center, and surrounding places, since East Kalimantan is a big province and you might hard to find specific place to buy all different types of souvenirs other than this place.




READ MORE - East Kalimantan, a Surface Note